About us

Monday, 2 June 2014

DRG Hormonal ELISA kits for research and diagnostics

Testosterone Does Not Necessarily Wane With Age

Biozatix News - informasi populer life science dan kedokteran 
Untuk beberapa lelaki, kadar testosterone akan menurun saat mereka mulai menua, namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa hal tersebut bukanlah konsekuensi  dari umur itu sendiri, hal itu lebih dikarenakan faktor kebiasaan, seperti merokok, perubahan kesehatan seperti obesitas dan depresi. M
Pada laki-laki, hormone testosterone dibuat di testikel dan mengontrol perkembangan karakteristik seksual mereka. Hormon tersebut dapat mempengaruhi fungsi seksual dan kesuburan dan juga membantu menjaga kesehatan komposisi tubuh, menumbuhkan massa otot, kadar sel darah merah yang cukup dan menjaga kepadatan tulang.
Sebuah studi yang dipimpin oleh Dr Gary Wittert, professor kedokteran  University of Adelaidetakan kepada media :“penting bagi dokter untuk mengerti bahwa penurunan kadar testosterone bukan merupakan bagian alami dari penuaan dan hal tersebut lebih disebabkan karena kebiasaan dan kondisi kesehatan itu sendiri”Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa beberapa laki-laki memiliki kadar testoseteron rendah dan beberapa diantaranya berkaitan dengan depresi. Studi terakhir yang menganalisis pengukuran testosterone pada lebih dari 1500 laki-laki dites kadar hormonnya dua kali, dengan jeda waktu lima tahun. Semua sampel diperiksa pada waktu dan interval yang sama.
Wittert dan koleganya hanya memasukkan 1382 laki-laki pada analisis mereka karena mereka membuang sample yang memiliki kondisi kesehatan yang memepengaruhi kadar hormone. Usia rata-rata adalah 54 (berkisar antara 35 sampai 80 tahun). Me, reka menemukan bahwa kadar testosterone rata-rata dapat menurun secara signifikan 1% per tahun antara pertama kali sampling dan kedua kalinya lima tahun kemudian. Dimana, mereka menemukan dalam subgroup adanya pola yang berbeda : faktor tertentu muncul mempengaruhi turunnya kadar secara signifikan selama periode.
Penurunan paling signifikan terjadi pada laki-laki yang mengalamai obesitas, berhenti merokok atau mengalami depresi . Studi juga menunjukkan bahwa lelaki yang tidak menikah mengalami penurunan yang lebih tinggi daripada laki-laki yang menikah.
Wittert mengatakan bahwa penemuannya ini mungkin mendukung studi lain yang menyarankan kaum lelaki akan lebih bahagia dan sehat apabila menikah daripada lelaki single. Dia juga mengatakan bahwa aktivitas seksual yang rutin dapat meningkatkan kadar testosterone.

Written by Catharine Paddock

Sunday, 1 June 2014

Study: Simple scope exam cuts colon cancer deaths

Biozatix News - informasi popular life science dan kedokteran
Sebuah studi menunjukkan bahwa latihan yang murah dan sederhana pada bagian bawah usus dapat mengurangi resiko perkembangan kanker kolon. Beberapa dokter merekomendasikan tes lengkap – kolonoskopi- namun mungkin beberapa orang akan menolak karena mahal dan tidak menyenangkan. Studi terbaru menunjukkan adanya tes yang lebih sederhana yang dapat menjadi pilihan yang baik yaitu flexible sigmoidoscopy. Studi tersebut dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine dan telah dipresentasikan pada konferensi penyakit digestif di San Diego.
Kanker kolorektal adalah peringkat kedua kanker yang paling banyak menyebabkan kematian di US dan peringkat keempat di dunia. Lebih dari 143.000 kasus baru dan 52.000 kematian karena penyakit ini yang diperkirakan di US tahun ini. Orang berumur 50 sampai 75 tahun adalah yang paling banyak memiliki resiko kanker kolon dan sangat disarankan untuk mulai diskrining, namun hanya 60% yang melakukannya. Pemerintah merekomendasikan tiga metode : tes darah feses tahunan, sigmoidoscopy setiap lima tahun ditambah tes feses setiap tiga tahun atau kolonoskopi tiap satu dekade.
Dalam kolonoskopi, sebuah tabung kecil dengan kamera yang sangat kecil dimasukkan dalam usus besar. Pasien dapat ditenangkan tapi pasien harus minum banyak cairan sehari sebelumnya untuk membersihkan usus.Sigmoidoscopy bukan pilihan yang populer di US tapi merupakan salah satu yang paling banyak digunakan di Inggris. Sigmoidoscopy juga menggunakan selang dan kamera kecil namun dapat dilakukan di kantor dokter umum, hanya memerlukan persiapan yang lebih sedikit dan harganya hanya berkisar antara US $150 hingga  US $300 lebih murah dibandingkan US $1,000 hingga $2,000 untuk biaya kolonoskopi.
“Salah satu kelemahannya adalah tidak menggunakan anestesi. Biasanya tes ini tidak sakit, namun pasien akan merasakan kram dan tidak nyaman, “ kata Dr. Durado Brooks, ahli kanker kolon American Cancer Society's. Sigmoidoscopy juga hanya dapat melihat sepertiga bagian bawah dari kolon. “ namun itu merupakan are dimana kemungkinan setengah dari polip dan kanker berkembang”, kata Brooks.
Studi baru yang diketuai oleh Dr. Robert Schoen dari University of Pittsburgh Medical Center, menguji bagaimana kerja sigmoidoscopy. Setelah sekitar 12 tahun penelitian, diketahui bahwa terdapat 21% lebih sedikit kasus kanker kolon dan 26% lebih sedikit kematian pada kelompok dengan perlakuan sigmoidoscopy. Dari kanker pada kelompok tersebut, 243 diketahui penyakitnya dari sigmoidoscopy (beberapa diantaranya ditemukan gejala dari tes lain). Para peneliti memperkirakan bahwa 97 orang lainnya mungkin dapat dideteksi dengan kolonoskopi, kata Dr. Christine Berg, kepala riset deteksi dini di  National Cancer Institute, yang membiayai penelitian ini.
“Menurut pendapat saya tidak ada keraguan bahwa kolonoskopi lebih baik dalam mendeteksi lebih nakan apabila pasien tidak mau melakukan persiapan perlakuan usus atau karena anestesi akan memberikan resiko yang besar”, lanjutnya.
New England Journal: http://www.nejm.org

Eye Disease Linked to Memory Decline : Tes Mata dapat membantu mengidentifikasi perkembangan resiko penyakit mental
By Salynn Boyles                                          
sumber: WebMD Health News

Biozatix News - informasi populer life science dan Kedokteran
Studi baru menunjukkan bahwa sesorang yang meskipun hanya memiliki sedikit kerusakan pada mata yang melibatkan pembuluh darah retina, memiliki resiko yang lebih tinggi dalam hal penurunan berpikir dan memori. Para peneliti mengatakan bahwa masalah dengan pembuluh darah di mata dapat menjadi petunjuk penting bahwa pembuluh darah otak tidak berfungsi dengan baik.Jika hal ini diterima sebagai permasalahannya, tes mata untuk mengecek kerusakan pembuluh darah retina atau retinopati seharusnya bisa digunakan untuk membantu mengidentifikasi resiko seseorang untuk dementia.
Mata Sehat, Otak Sehat
Retinopati adalah komplikasi umum pada diabetes dan tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dan ini adalah penyebab utama kebutaan pada orang dewasa di US. Diabetes dan tekanan darah tinggi juga dikaitkan dengan resiko penurunan memori dan berpikir. Untuk menemukan apakah retinopati dapat digunakan sebagai peringatan awal masalah mental yang terkait dengan pembuluh darah, para peneliti memeriksa data dari suatu studi besar yang dikenal  dengan Women’s Health Initiative.
Secara keseluruhan, 39 wanita (7.6%) diketahui memiliki retinopati, tapi penglihatannya tidak lebih buruk daripada wanita yang tidak memiliki retinopati. Dibandingkan dengan wanita yang tidak menunjukkan adanya kerusakan pembuluh ke mata, wanita ini memiliki skor yang lebih rendah pada tes berpikir. Scanning otak menunjukkan bahwa terdapat banyak kerusakan pembuluh darah pada otak.
Retinopati dan Kehilangan memori
Penemuan tersebut menunjukkan bahwa retinopati dini dapat menjadi indicator untuk penyakit pembuluh darah dan faktor resiko untuk penurunan memori dan berpikir yang terkait dengan pembuluh darah. Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Neurologi pada 14 Maret.

Discovery of the Cellular Origin of Cervical Cancer

Biozatix News - informasi populer life science dan kedokteran
Sebuah tim peneliti dari A*STAR’s Institute of Medical Biology (IMB) and Genome Institute of Singapore (GIS) bersama dengan para dokter dari Boston’s Brigham and Women’s Hospital (BWH) telah mengidentifikasi satu set unik sel pada serviks yang menjadi penyebab kanker serviks karena human papillomaviruses (HPV). Yang paling signifikan adalah tim tersebut juga menunjukkan bahwa sel ini tidak beregeneasi saat dipotong. Penemuan ini membawa dampak besar dalam diagnosis, pencegahan dan treatment kanker serviks. Studi ini dipublikasikan dalam jurnal ternama : Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).
Kanker serviks menempati urutan ketujuh kanker yang paling banyak diderita wanita di Singapura dan terdapat 200 kasus kanker serviks yang terdiagnosa setiap tahunnya. Infeksi karena HPV adalah penyebab umum resiko kanker serviks. Infeksi HPV menyebabkan kanker pre-invasif, yang disebut dengan CIN (Cervical Intraepithelial Neoplasia), yang merupakan lesi pre-kanker yang dapat berkembang dan berpotensi menjadi kanker yang invasif.
Tim tersebut menemukan bahwa kumpulan diskrit sel ini, yang terdapat di squamocolumnar junction serviks, mengekspresikan biomarker secara unik yang terlihat dalam semua bentuk kanker serviks infasif yang berhubungan dengan HPV. Ini berarti bahwa marker penanda populasi sel ini dapat menyediakan jalan untuk membedakan lesi prekanker yang berpotensi bahaya dengan prognosis jinak.
Dr. Wa Xian, ketua peneliti di IMB mengatakan, “ Studi kami juga menunjukkan bahwa populasi sel unik ini tidak kembali muncul setelah ablasi oleh biopsy. Penemuan ini membantu menjelaskan rendahnya tingkat infeksi HPV pada serviks setelah terapi dan juga memunculkan kemungkinan langka bahwa dengan membuang sel ini pada wanita muda dapat mengurangi resiko kanker serviks. Hal ini seharusnya dapat menjadi alternatif untuk vaksin yang sekarang ada untuk melindungi dari HPV 16 dan 18.
Dr Frank Mckeon, Senior Group Leader di  GIS, mengatakan “ pekerjaan kami sebelumnya pada kanker esophageal membuka kemungkinan adanya terapi pencegahan untuk menyingkirkan penyakit dengan membuang sekelompok kecil sel tersebut ”  Prof Birgitte Lane, Executive Director IMB, mengatakan “ studi ini mendorong untuk mengetahui pentingnya populasi sel target spesifik dibalik kanker. Ini adalah contoh kuat dari apa yang bisa dilakukan dengan menggabungkan antara ilmu patologi dengan genetika molekuler modern untuk membuka rahasia pentingnya informasi baru, bahkan pada penyakit yang sudah lama dipelajari seperti kanker serviks.”
Source: Agency for Science, Technology and Research (A*STAR), Singapore
Nanoteknologi dalam dunia medis: Potensi Besar, Namun apa resikonya?

Biozatix News - informasi populer life science dan kedokteran
Nanotechnology, manipulasi bahan pada skala atomic dan molekuler untuk menghasilkan bahan yang sangat beragam dan baru adalah area riset yang berkembang sangat cepat dengan potensi yang sangat besar di berbagai sektor mulai dari kesehatan hingga konstruksi dan elektronik. Dalam pengobatan, dijanjikan bahwa suatu saat nanti akan ada perkembangan pesat dalam hal pemasukan obat, terapi gen, diagnostic dan beberapa area riset dalam aplikasi klinis.
What of the Future and Concerns Surrounding Nanomaterials?
Beberapa tahun belakangan ini terlihat banyak sekali studi yang menunjukkan mengenai keberagaman aplikasi nanoteknologi dan nanomaterial dalam bidang medis. Dimana, terdapat beberapa tantangan dan yang paling besar adalah bagaimana cara untuk membuatnya dalam skala besar dan bagaimana cara menekan biaya produksi dan waktu yang dibutuhkan.
Tantangan yang lain adalah bagaimana caranya memberikan kepercayaan public bahwa teknologi tersebut aman. Sejauh ini, hal tersebut belum dikonfirmasi dengan jelas.
Dalam usaha untuk menginvestigasi  keamanan nanomaterial, National Cancer Institute di US mengatakan bahwa terdapat berbagai macam nanopartikel yang secara alami ada di lingkungan. Dapat dikatakan bahwa nanopartikel jauh lebih tidak berbahaya daripa partikel pembersih rumah tangga, insektisida dan penghilang ketombe. Sebagai pembawa terapeutik kanker, nanopartikel juga jauh lebih tidak berbahaya daripada obat yang dibawanya.
Namun, ada juga kelompok yang menggarisbawahi bahwa dengan semakin cepatnya penelitian dan market nanomaterial, sepertinya muncul anggapan bahwa hal itu belum cukup mencakup konsekuensi toksikologinya.
Konsentrasi masalahnya adalah pada ukuran dan mobilitas nanopartikel : meskipun cukup kecil, jika tertelan, berpenetrasi ke membrane sel usus, terdapat juga potensi untuk mengakses otak dan bagian lain dari tubuh dan bahkan di dalam nucleus sel. Masalah lainnya adalah solubilitas dan persistensi nanomaterial. Apabila partikel tersebut dapat dipecah dan dicerna atau didegradasi, apakah ada bahaya akibat akumulasinya dalam organ? Selain itu juga tingginya area permukaan disbanding rasio massa, nanopartikel dapat dikatakan sangat reaktif, dan bisa saja memicu reaksi kimia atau berikatan dengan toksin yang memungkinkannya untuk memasuki sel padahal sebenarnya tidak boleh sampai masuk ke dalam sel.
Mereka menyarankan untuk melakukan lebih banyak riset untuk memastikan bahwa badan yang  bertanggungjawab mengurusi peraturan tersebut  menguji keamanan produk sebelum diperbolehkan untuk dipasarkan.
Written by Catharine Paddock PhD
Source: Medical News Today

Thursday, 29 May 2014

“Bom Pintar untuk Melawan Kanker Payudara”

By MARILYNN MARCHIONE - AP Chief Medical Writer - Associated PressSunday, June 3, 2012

Biozatix News - informasi populer life science dan kedokteran
Para dokter telah sukses mengeluarkan “bom pintar” untuk kanker payudara, dengan menggunakan obat untuk memasukkan toksin ke sel tumor tanpa mempengaruhi sel normal.  Uji ini melibatkan 1000 wanita dengan kanker yang parah dan perawatan yang diberikan kepada mereka untuk meningkatkan ketahanan hidup. Setelah dua tahun, 65 persen dari wanita yang mendapat  perawatan tersebut yang masih hidup dibandingkan 47 persen wanita yang ada dalam kelompok pembanding yang diberi obat kanker biasa.
Faktanya, ada banyak wanita yang diberi treatment baru tersebut yang masih bertahan hidup  namun para peneliti tidakdapat menentukan rata-rata lamanya bertahan hidup. Sebuah peringatan untuk pasien yang masih memiliki harapan : obat tersebut masih dalam tahap eksperimental, sehingga belum tersedia secara komersil. Diharapkan obat tersebut dapat dipasarkan mulai tahun depan.
Treatment tersebut menggunakan Herceptin, yang merupakan terapi bertarget gen yang pertama untuk kanker payudara. Terapi ini sudah digunakan pada sekitar 20 persen pasien yang memiliki overproduksi protein tertentu.
Para peneliti mengkombinasikan Herceptin dengan kemoterapi , ditambah bahan kimia untuk menjaga keduanya tetap tertaut sampai mencapat sel kanker dimana racun dapat dilepaskan untuk  membunuh sek kanker tersebut.
Senjata ganda ini, disebut T-DM1 adalah “bom pintar” meskipun sebenarnya tidak sepintar namanya. Herceptin hanyalah sebuah substansi yang mengikat ke sel kanker payudara saat ia mulai mencapainya. Para dokter menguji T-DM1 pada 991 wanita dengan kanker payudara invasive yang menjadi semakin parah dengan treatment kemoterapi dan Herceptin biasa. Mereka diberi infus T-DM1 setiap tiga minggu atau infuse Xeloda dan Tykerb setiap hari- yang merupakan treatment satu-satunya yang diperbolehkan untuk beberapa kasus.
Waktu tengah hingga kanker menjadi semakin parah mendekati waktu 10 bulan pada wanita yang diberi treatment TDM-1 sedangkan yang tidak mendapatkan treatment dengan TDM-1 mendekati waktu 6 bulan. TDM-1 memiliki efek samping yang lebih sedikit daripada obat lain. Beberapa wanita yang mendapat treatment dengan TDM-1 memiliki tanda-tanda kerusakan ginjal dan turunnya kadar faktor penggumpalan darah, tapi kebanyakan tidak memiliki masalah biasa pada kemoterapi.
"Dapat dikatakan bahwa ini adalah bom pintar yang dapat meracuni tumor namun tidak banyak menyebabkan kerusakan organ lain” kata Dr. Louis Weiner, direktur Georgetown Lombardi Comprehensive Cancer Center.

Ginseng dapat digunakan Pasien Kanker untuk melawan rasa lelah.


Biozatix-News - informasi populer life Science dan Kedokteran
Dosis tinggi dari herba ginseng Amerika (Panax quinquefolius) selama lebih dari dua bulan dapat mengurangi rasa lelah karena kanker lebih efektif daripada placebo, berdasarkan hasil studi yang dipimpin Mayo-clinic. Enam puluh persen pasien yang masuk dalam studi adalah pasien kanekr payudara. Penemuan ini dipresentasikan pada pertemuan tahunan the American Society of Clinical Oncology.
Para peneliti mengkaji 340 pasien yang memiliki perawatan kanker lengkap dari 40 komunitas rumah sakit. Setiap hari, para peserta uji mendapatkan placebo atau 2000 mg ginseng dalam kapsul. Pada empat minggu, ginseng alami hanya memberikan sedikit perkembangan pada gejala kelelahan. Dimana, pada minggu kedelapan, ginseng memberikan perkembangan signifikan dalah hal gejala kelelahan dibandingkan kelompok Placebo.
Ginseng telah lama digunakan sebagai obat tradisional Cina sebagai penambah energy alami. Sampai studi ini dilakukan, efeknya belum pernah diuji dengan menyeluruh dalam hal mengurangi rasa lelah pada lebih dari 90% pasien kanker. Rasa lelah pada pasien kanker berhubungan dengan peningkatan sistem imun yang berbasis sitokin dan kadar hormone stress-kortisol. Senyawa aktif ginseng disebut dengan ginsenosida. Pada uji hewan, ginsenosida diketahui dapat memngurangi inflamasi karena sitokine dan membantu mengatur kadar kortisol.
Studi lanjut Dr. Barton akan melihat lebih dekat efek ginseng pada biomarker spesifik kelelahan. “ kanker adalah stress kronis yang diperpanjang dan efeknya dapat muncul selama 10 tahun selama diagnosis dan treatment.Jika kita dapat membantu tubuh untuk dimodulasi dengan baik menggunakan ginseng, mungkin kita dapat mencegah rasa lelah untuk jangka waktu yang lama”

Source: Mayo Clinic